Hidup Tak Seindah Cerpen

Sabtu, 15 November 2025

SENJA DIKOTA ITU


 

Senja di Sudut Kota Itu

Bab 1: Aroma Kopi yang Pahit

​Aksa selalu menyukai aroma kopi. Baginya, itu adalah aroma rumah, aroma ketenangan. Namun, sore itu, di kafe kecil bernama 'Jeda' yang dulu menjadi saksi setiap janji dan tawa mereka, aroma espresso yang pekat terasa seperti racun. Pahit, menyesakkan, dan membakar kerongkongannya.

​Dua jam. Selama dua jam ia duduk di sana, di kursi kayu vintage yang dulunya adalah tempat favorit Aruna. Tepat di samping jendela besar yang kini diselimuti rinai hujan Jakarta. Aruna tidak datang.

​Bukan, dia bukan tidak datang. Dia datang, dua jam lalu, hanya untuk mengucapkan tiga kalimat yang meruntuhkan semesta Aksa.

​"Aksa, ini sudah berakhir. Kita harus berhenti."

​Sederhana. Terlalu sederhana untuk mengakhiri tujuh tahun yang mereka ukir bersama. Tujuh tahun, enam musim berganti, dan ratusan cangkir kopi yang kini terasa hambar. Aksa ingat, Aruna mengucapkan kata-kata itu tanpa tangisan, tanpa keraguan. Matanya teduh, seolah ia sedang membacakan daftar belanjaan, bukan naskah perpisahan. Itu yang paling melukai—kedamaian di wajah Aruna.

​Ia mengambil cangkir yang sudah dingin, membiarkan bibirnya menyentuh tepian porselen. Rasa dingin itu menjalar, tapi tidak sebanding dengan hampa yang mulai menjangkiti dadanya.

​Aksa menoleh ke luar jendela. Jalanan basah memantulkan lampu-lampu kota yang baru menyala, menciptakan ilusi sungai cahaya yang berkelip. Ia mencoba mencari alasan. Apakah karena pekerjaannya yang terlalu menyita waktu? Apakah karena ia lupa hari ulang tahun Aruna dua bulan lalu? Atau apakah ini karena senyap yang belakangan ini sering mengisi percakapan mereka?

​Sebuah pesan masuk di ponselnya. Bukan dari Aruna. Pesan notifikasi dari aplikasi musik yang memutar ulang daftar lagu terakhir yang ia dengarkan. Itu adalah playlist yang mereka buat bersama, diberi nama "Senandung Senja". Judul lagu pertama yang muncul: Tinggal Kenangan.

​Aksa tertawa kecil. Tawa yang kering, nyaris tanpa suara. Ia sadar, ia tidak sedang di kafe ‘Jeda’ untuk menunggu Aruna kembali. Ia duduk di sana sebagai hukuman. Menghukum dirinya sendiri karena gagal melihat retakan di antara mereka, menghukum dirinya karena terlalu percaya bahwa cinta saja sudah cukup.

​Ia berdiri, menyeret langkahnya yang terasa dua kali lebih berat. Di meja kasir, seorang pelayan tersenyum canggung.

​“Mau dibungkus, Mas?” tanyanya, menunjuk sepotong red velvet yang belum ia sentuh. Aruna sangat menyukai kue itu.

​“Tidak,” jawab Aksa, suaranya serak. Ia mengeluarkan selembar uang dan meletakkannya di atas meja. “Biarkan saja di sana. Anggap saja sisa kenangan.”

​Ia berjalan keluar, menembus dinginnya malam yang basah. Di sudut kafe, pohon flamboyan yang dulu selalu berbunga merah saat mereka kencan pertama, kini hanya menyisakan ranting-ranting telanjang.

​Di bawah gerimis yang enggan reda, Aksa mendongak. Ia ingin menangis, tapi air mata terasa terlalu mahal untuk dikeluarkan demi seseorang yang sudah pergi tanpa menoleh ke belakang. Ia hanya merasakan satu hal: kekosongan. Sebuah lubang besar di tengah jantung, di mana Aruna pernah menjadi seluruh dunianya.

​Ini bukan akhir. Ini adalah awal dari perjalanannya untuk belajar bernapas lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SENJA DIKOTA ITU

  Senja di Sudut Kota Itu ​ Bab 1: Aroma Kopi yang Pahit ​Aksa selalu menyukai aroma kopi. Baginya, itu adalah aroma rumah, aroma ketenang...